malam yg kelam

rabu 10 september 2008

Malam ini akan ku ingat dalam folder kesialan di drive D dalam isi kepalaku. kesialan dimulai ketika jam sudah menunjukkan jam 18.45 aku genjot motor matic putih yg sementara ini aku pelihara ke arah jalan asia afrika, dimana istriku mungkin sudah menunggu untuk dijemput. hari ini dia lembur, dan pada saat yg bersamaan pula aku menghadiri bubar di natuna 35 bersama rekan2 se-kompatriot motor tua asal italy. jadi rada gak bisa menikmati suasana karena harus cepat2 jemput dan meninggalkan acara tersebut. jarak antara lokasi acara sama kantornya gak jauh2 amat cuma kira2 1 kilometer. cuma sialnya belom sampe setengah jalan hujan yg deras udah nyamber aja. nyampe di basement, gak nyampe 10 menit akhirnya datang juga istriku barengan sama temennya yg namanya mmmm siapa ya lupa lagi nii. . . . . mmm gak penting deh namanya siapa yg penting aku kenal dia baik dan dia juga sama kenal aku sama baiknya.

hujan semakin deras dan terpaksa aku nunggu di basement BCA, tapi disini gak cuma aku bertiga yg menunggu hujan reda. ada beberapa karyawan BCA yg sama nunggu hujan reda. di sela2 waktu aku menunggu hujan reda ada bapak2 karyawan BCA yg kebetulan sama lg nungguin ujan. dengan santun aku coba mengajaknya ngobrol ngalor-ngidul. he he he he he seperti biasa aku senang sekali bertemu dengan orang baru dan dengan cara seperti itu aku merasa bisa mendapatkan sesuatu yg baru. awalnya sii aku ngerasa orangnya rada angkuh, tapi aku gak perduli mungkin saja ini adalah awal pembicaraan atau diskusi yg seru. akhirnya pembicaraan pun berkembang dan dia mulai merespon dengan antusias dengan umpan2 lambung bahasan yg aku lontarkan padanya. mulai dari perubahan cuaca, perubahan struktur politik, bahan bakar yg katanya mau naik lagi, kepadatan lalu lintas, calon presiden buat pemilu 2009, tabung gas 3 kiloan, penyebab macet, NPWP, pajak pendapatan, dan diakhiri dengan pembahasan kemana uang2 pajak yg kita bayarkan.

banyak sekali yg saya bicarakan dengan bapak itu. bayak karena hujannya deras dan lama banget. kesimpulan yg saya dapatkan adalah, pembicaraan kami ini adalah seputar ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah yg tidak dapat melayani para pembayar pajak dengan kurangnya fasilitas publik seperti transportasi, komunikasi, keamanan, serta kenyamanan. ditambah lagi dengan susahnya mendapatkan bahan bakar baik itu untuk rumah tangga atau kendaraan.

Parahnya kondisi jalan serta kurang memadainya lampu di sekitar jalan protokol sering jadi penyebab utama kecelakaan selain memang dari segi pengendaranya juga sii yg ugal2an dan sering melanggar aturan. kepadatan kendaraan bermotor khususnya sepeda motor di sini juga mendapat perhatian yg serius dalam diskusi kami saat itu. bayangin aja, dulu mungkin kita bisa setuju kalo angkot (angkutan kota) yg sering bikin macet karena ulahnya yg sering ugal2an, melanggar aturan, ngetem sembarangan, berhenti tengah jalan, sampe ngetem berjamaah di perempatan dan mengambil hampir separuh dari badan jalan. nah kalo sekarang keadaan mungkin jadi lebih parah lagi karena populasi sepeda motor sekarang (anggap aja saya ngaco ngitungnya) mungkin udah satu pertiga dari pengguna jalan raya disini. kelakuannya juga gak kalah brengsek sama supir angkot itu. para pengendara motor lebih sadis lagi kalo dah ngejago di jalanan, mereka dah gak peduli lagi dengan arah lawan yg mereka lawan dan yg selalu terjadi adalah mereka mengambil alih jalan yg berlawanan sehingga arah lawan arusnya tersendat yg mengakibatkan keadaan menjadi gridlock (buntu).

Sampe sini aja dulu aku bisa nyimpulin kalo keadaan lalu lintas kita seperti ini bagaimana lalu lintas bisa berjalan dengan lancar. yakin deh polantas juga dah bingung mau bagaimana kalo dah begini. pembicaraan terus berlanjut kepada bahasan2 lainnya yg gak kalah menarik dari bahasan lalu lintas. akhirnya hujan pun reda, pembicaraan pun kami putuskan untuk diakhiri saja karena jam pun sudah menunjukkan jam 20.15. kami pun berpamitan dan seperti biasa pula saya lupa untuk menanyakan nama dari bapak yg barusan bahkan untuk berkenalan. ulahku ini pula yg membuat istri dan temanku tertawa terpingkal2. istriku pun selalu berkomentar “dasar kebiasaan kalo dah ngobrol akrab sama orang pasti ujungnya lupa kenalan”, namun aku yakin kalo kami masih ada jodoh pasti nanti ada waktu dan kesempatan pula untuk kami berkenalan.

motorpun aku langsung geber karena hari dah malam dan perut pun keroncongan. ,maklum barusan di acara bubar aku cuma minum air putih sama cendol doang buat ngebatalin. istriku pun mulai sedikit mengeluh karena perutnya mulai keroncongan (padahal barusan di basement kantornya dia dah semmpet ngabisin coklat satu bungkus) mungkin belum terisi nasi. dan aku tawarkan untuk makan diluar aja gak usah nunggu sampe rumah. tapi dengan alasan males buat turun2 lg dari motor mama raka menolak ajakanku. ya udah tancap terus. hingga akhirnya sampai di perapatan emanuel (leuwi panjang) aku dah punya firasat buruk kalo akibat dari hujan yg lebat barusan adalah macet yg diakibatkan oleh banjir. yupzz banjir terjadi di mana2 khususnya jika jalan tersebut bersebelahan dengan drainase kota yg terbilang sangat buruk dan tidak pernah dikelola. buruknya penanganan drainase dan penyakit buang sampah sembarangan yg dilakukan oleh masyarakat menambah semakin buruknya tingkat kualitas kehidupan disini. macet dan banjir malam itu menghiasi segala perasaan beteku malam itu.

aku jabarin nii satu2 penyebab kesialannya:

pertama, adalah aku telat makan plus gak sahur hari itu

kedua, banjir menyebabkan bau busuk yg menyengat hidung ditambah macet yg menimbulkan asap motor (2tak) yg membuat mual, ditambah lagi kaki yg harus terbenam di air yg kotor dan dingin

ketiga, bete melihat para pengendara motor yg seakan tidak perduli dengan kenyamanan sesamanya dengan menyalib dan mengambil alih badan jalan yg berlawanan sehingga menimbulkan keadaan semakin parah karena kedua sisi dari arah yg berlawanan pun berlaku sama. kesimpulannya adalah macet total yg sangat parah dan panjang sekali.

keempat, adalah akhir dari kesialannku malam itu, ban motor bocor kira2 tepat dua ratus meter sebelum sampe ke rumah. kebiasaan orang membuang sampah sembarangan membuat pasca banjir jalanan dipenuhi dengan berbagai macam sampah yg berserakan di badan2 jalan. dengan penuh perasaan jijik akhirnya terpaksa jalan tersebut harus aku lalui dengan mendorong motor.

Lengkap sudah penderitaanku malam itu. semoga dari segala apa yg telah aku lalui malam itu dapat membuatku tetap sadar untuk hidup dengan mengikuti aturan bukan mengikuti naluri seperti apa yg aku saksikan malam itu. kita adalah manusia yg di berkalti dengan akal dan pikiran, dimana dari akal dan pikran tersebutlah seharusnya kita memiliki rasa penghargaan dan rasa toleran akan sesama, lingkungan, terlebih pada peradaban. kita hidup berdampingan namun berlaku seenaknya. kebersihan adalah bentuk dari kemandirian dan kesadaran kita untuk menjaganya bukan bentuk dari ketidak-mau- tahuan.

memang susah jadi manusia

Leave a comment

Filed under komentarku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s